Archive

Posts Tagged ‘Nicky astria’

Biografi “Nicky Astria” ; Bagian 3

Desember 1, 2010 4 komentar

PERKAWINAN PENUH KERIKIL

Cover Album “Tangan-tangan Setan”

Setelah setahun menjadi penyanyi profesional, meski namanya belum terlalu ngetop, Nicky lulus SMA. Kakaknya, Dicky, menyuruhnya kuliah. Sayangnya, ia tak diterima di perguruan tinggi negeri, sehingga Dicky mendaftarkan adiknya di ABA (Akademi Bahasa Asing) Bandung, jurusan bahasa Inggris. “Yang paling ngotot agar saya kuliah memang Kang Dicky. Dialah yang sibuk mengurus surat-surat dan mendaftarkan saya, sementara saya hanya santai-santai saja di rumah,” ujar Nicky, tertawa.

Tapi, belum setahun kuliah, Nicky harus menghadapi kesibukan lain. Tak lama setelah mendapat penghargaan BASF Award, ia berangkat ke Jerman. Akibatnya, kuliahnya pun kandas di tengah jalan. Tak putus asa, Dicky kembali mendaftarkan adiknya ke kursus jangka pendek di Lembaga Pendidikan Komputer Indonesia-Amerika. Baca selanjutnya…

Kategori:Rock Tag:

Biografi “Nicky Astria” ; Bagian 2

Desember 1, 2010 3 komentar

LADY ROCKER YANG MELEJIT

Nicky Astria

Nicky baru berusia 14 tahun dan duduk di kelas 3 SMP Negeri 13, Bandung, ketika ayahnya dipanggil Tuhan, Juli 1981. Ayahnya berpulang setelah hampir setengah tahun dirawat di rumah sakit akibat komplikasi berbagai penyakit, mulai dari lever, darah tinggi, hingga tifus. Saat mendengar berita duka itu, Nicky baru saja pulang sekolah, dan langsung pingsan berkali-kali. Setiap kali siuman dan mendapati ayahnya terbujur beku dalam balutan kafan, Nicky tidak bisa mengendalikan emosinya. Ia pingsan lagi saat menyaksikan jasad ayah tercintanya dimasukkan ke liang lahat. Baca selanjutnya…

Kategori:Rock Tag:

Biografi “Nicky Astria” ; Bagian 1

Desember 1, 2010 1 komentar

 

Nicky Astria

Suatu hari di tahun 1974, seorang bocah perempuan kelas 3 SD menangis meraung-raung keras sekali di suatu daerah wisata di Bangkok, Thailand. Putri Kepala Sekolah Indonesia di Malaysia itu ngotot minta dibelikan boneka yang sangat besar dan tinggi seperti yang baru saja dibeli salah seorang teman mainnya. Meski sudah dibujuk-bujuk oleh ayahnya, bocah itu terus meronta-ronta, dan malah makin meningkatkan ‘power’ tangisnya. Begitu dahsyat lengkingannya, sehingga beberapa orang di dekatnya terpaksa menutup kuping.

Di pihak lain, sang ayah bersikukuh tidak mau mengabulkan permintaan gadis kecilnya itu. Akhirnya, karena tak mau mengganggu orang lain, sang ayah membawa bocah yang tengah menjerit-jerit itu pulang kembali ke cottage. Setelah meninggalkan makanan dan minuman, sang ayah mengunci si bocah di dalam cottage dan bergabung kembali ke rombongannya, para staf pengajar Sekolah Indonesia di Malaysia berikut keluarga masing-masing. Baca selanjutnya…