Beranda > Alat musik > Okulele; Sering juga disebut CUK / JUK

Okulele; Sering juga disebut CUK / JUK

Okulele

Jenis alat musik Okulele ini tergolong salah satu alat musik Flores yang sangat Khas selain suling, gendang, gong, waning dll. Mula – mula alat musik Okulele ini dibawah masuk  oleh bangsa portugis di Flores pada abad ke-16 sampai 17 bersamaan dengan alat musik harmonika. Selain itu bersamaan dengan Okulele dan harmonika, masuk pula jenis musik keroncong yang menjadi Musik Khas tanah air. Di Flores, masyarakat juga sering menyebut Okulele dengan nama Cuk atau Juk.

Okulele adalah alat musik petik sejenis gitar berukuran kecil, sekitar 20 inci, dan merupakan alat musik asli Hawai ditemukan sekitar tahun 1879. Pada awalnya Okulele hanya berdawai 3 (nilon) dan urutan nadanya adalah G, B dan E; sebagai alat musik utama yang menyuarakan crong – crong, sehingga setelah dipadukan dengan aliran musik khas hawaii maka muncul pula dengan istilah aliran musik keroncong dan merupakan awal tonggak mulainya musik keroncong. Setelah beberapa dekade kemudian okulele berdawai 3 dikembangkan menjadi Okulele berdawai 4 dengan urutan nadanya A, D, Fis, dan B. Jadi ketika alat musik lainnya memainkan tangga nada C, okulele bermain pada tangga nada F (dikenal dengan sebutan in F).

Di Flores, memang alat musik ini tidak termasuk sebagai alat musik tradisional, namun seperti yang diketahui, Okulele telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat setempat karena alat musik ini dapat menghibur setiap orang yang memainkan dan mendengarkan alunannya. Setiap dawai yang dimainkan, akan selalu mewakili jiwa  dan setiap nada akan mewakili pikiran maka setiap pikiran itu pula akan selalu mewakili imajinasi, ilusi serta inspirasi. Satu hal yang sangat menakjubkan adalah Okulele dapat dimainkan bersamaan dengan alat musik apa saja. Selain itu alat ini kerap digunakan oleh para musisi lokal yang mahir memetikan jemarinya sembari mengiringi aliran musik yang bernada Gambus atau yang dikenal dengan sebutan aliran musik padang pasir khas Timur Tengah. Tentu hal ini akan membuat para pendengar menjadi terkesima dan terhanyut dalam suasana yang penuh haru biru dan tidak jarang akan meneteskan air mata karena jenis aliran musik padang pasir ini cenderung mengulas syair tentang kisah – kisah perjalanan hidup seseorang. Di beberapa tempat di Flores seperti Adonara, Larantuka, Maumere, Ende Lio, Ngada, Manggarai dan Ruteng, Okulele masih sering dijumpai dan menjadi salah satu alat musik terfavorit karena dapat juga menghilangkan kejenuhan dan kepenatan.

Secara histories, alat musik ini jarang sekali digunakan pada saat – saat upacara adat. Akan tetapi pada momen – momen tertentu seperti perayaan tahun baru tentu alat musik ini adalah bukti nyata untuk memperkokoh rasa persaudaraan. Pasalnya, pada saat itulah para biduan lokal akan menghibur masyarakat  sambil melakukan perjalanan karosel dari rumah yang satu kerumah yang lainnya dengan membawakan lagu – lagu yang bertemahkan tahun baru. Tradisi ini tentu adalah sebuah warisan Portugis yang masih berbekas dalam sanubari kita semua. Kita tidak pernah tahu, apakah tradisi ini akan bertahan ataukah akan berakhir.

Satu hal menarik yang patut kita ketahui bersama, Setelah hengkangnya Portugis dari Nusantara, sesungguhnya mereka telah mewariskan beragam tradisi budaya yang masih melekat dan kita manfaatkan hingga kini seperti; Alat musik okulele, harmonika, keroncong atau bahkan ada 17 kosakata bahasa Indonesia yang masih kita pergunakan. Di Jakarta, ada salah satu perkumpulan Orang pribumi keturunan Portugis yang tinggal di wilayah kampung Tugu (Jakarta Utara) hingga kini masih berpegang teguh terhadap kebiasaan – kebiasaan Portugis. Ini terlihat dari cara – cara hidup mereka yang mencerminkan orang Portugis tempo dulu. Bukan itu saja, mereka bahkan masih menggunakan alat musik Okulele, harmonika dll setiap kali merayakan perhelatan tahun baru. Layaknya tradisi orang Portugis di Flores, mereka juga selalu melakukan perjanan karosel dari rumah ke rumah dan menghibur dari pintu ke pintu setiap masyarakat yang tinggal di wilayah itu. Tentu hal ini sungguh luar biasa menurutku, karena dikota metropolitan ternyata Tradisi ini masih kental dan masih mengalir laksana air dalam denyut nadi Ibukota.

Penulis, Marlin Bato
Mahasiswa Univ. Bung Karno
Fakultas Hukum
Jakarta Indonesia
Sumber; Lisan dan Museum Kota Tua Jakarta.

***

Kategori:Alat musik Tag:, , ,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: