Beranda > Klasik > Etika Menonton Musik Klasik

Etika Menonton Musik Klasik

Musik Klasik

Menonton konser musik klasik tentu berbeda dengan menyaksikan show pop. Sebelum konser dimulai, biasanya dibacakan tata tertib konser. Salah satunya, dan ini sangat penting, adalah tidak menyalakan ponsel (HP) selama konser berlangsung. Tepuk tangan hanya boleh dilakukan setelah musik/lagu dimainkan.

Sayang, etika konser yang sudah berlangsung ratusan tahun ini makin sulit diterapkan di masa sekarang. Masa teknologi informasi. Masa Facebook, Blackberry, dan sejenisnya. Masa di mana HP yang canggih dan modern menjadi bagian dari kehidupan manusia sekarang.

Mungkin orang Indonesia, khususnya yang muda-muda, rela mematikan sama sekal perangkat HP atau IT-nya dan fokus ke konser klasik? Selama satu jam atau dua jam? Rasanya sangat sulit, bahkan mendekati mustahil. Itulah yang saya amati dalam beberaa konser musik klasik di Surabaya beberapa bulan terakhir.

Selasa 10 Agustus 2010, Surabaya Symphony Orchestra bikin Konser Kemerdekaan di Hotel Shangri-La, Jalan Mayjen Sungkono 120 Surabaya. Pembawa acara, Dewi Endrawati, yang juga salah satu vokalis malam itu, membacakan etika konser. HP, laptop, pager (kalau masih ada), dan sejenisnya TOLONG dimatikan.

Pusatkan perhatian Anda, fokus, pada konser. Nikmatilah musik. Bukankah Anda sudah bayar mahal untuk bisa menyaksikan konser musik klasik, orkes simfoni, yang memang jarang ada di Indonesia?

Konser pun berlangsung dengan prakonser, semacam pemanasan. Kemudian pembukaan dengan lagu Indonesia Raya. Kemudian konser utama dengan seriosa Indonesia, lagu Bukit Kemenangan dan petikan opera Mozart yang dahsyat. Saya memandang ke barisan penonton VIP, mengamati perilaku penonton.

Wuih, menjengkelkan!

Bukannya menikmati musik, para remaja dan sejumlah orang dewasa itu sepertinya punya geng-geng sendiri. Asyik membahas pesan BBM, foto-foto dengan ponsel, ngobrol sendiri…. Khas anak muda generasi digital. Net generation! Tak ada usaha untuk fokus ke konser. Tak ada usaha untuk menikmati komposisi klasik. Tak ada usaha untuk mengapresiasi para pemusik dan penyanyi yang sudah berlatih sangat lama.

Tak jauh dari saya, ada dua ekspat, warga Amerika Serikat, guru sekolah internasional di Surabaya, menyaksikan pergelaran dengan penuh minat. Bule-bule, kalangan ekspat, yang cukup banyak itu, tampaknya benar-benar menikmati musik. Tak ada ekspat yang main-main HP, BBM, atau chatting selama konser berlangsung. Jauh sekali “peradaban” musik mereka ketimbang kita.

Sejak awal saya sudah menduga penonton yang suka bicara, main HP, foto-foto ala FB… itu tak akan tahan menonton orkes simfoni sampai selesai. Jangankan selesai, sampai setengah bagian saja sulit. Apalagi concerto piano dari pianis hebat Teguh Sukaryo, membawakan karya Franz Liszt, Piano Concerto Number 2 in A Major.

Komposisi ini sangat panjang, penuh dinamika, dan menuntut konsentrasi tinggi dari pemain maupun penonton. Mungkinkan remaja-remaja tadi bisa bertahan ketika fokus mereka terbagi dengan BBM? Sudah pasti tidak. Setelah saya kembali dari sisi kiri, rupanya anak-anak muda itu sudah tak ada lagi di ruang konser. Kursi-kursi yang tadinya lumayan penuh kini lengang. Makin lama makin habis, kurang dari 50 persen.

Di akhir konser, saat acara penyerahan bunga, apresiasi untuk para pengisi acara — seremoni yang sangat penting dalam konser klasik — ballroom Shangri-La yang luas itu terasa lengang. Bahkan, beberapa nama besar yang dijadwalkan menyerahkan karangan bunga sudah kabur lebih dulu. Syukurlah, para ekspatriat masih bertahan, menyempatkan diri bersalaman dengan dirigen Solomon Tong serta para pemusik dan penyanyi.

Apa yang salah dengan masyarakat kita di Indonesia, khususnya Surabaya? Mengapa sulit sekali mematikan HP (dan sejenisnya) selama 90 menit selama konser klasik? Orang-orang Barat itu mungkin lebih sibuk dari kita. Toh, mereka bisa menghentikan aktivitas seluler secara total sebelum disuruh pembawa acara. Beda sekali dengan kita, orang Indonesia, yang sebetulnya terlambat mengenal teknologi apa pun.

Atau, kalau dipikir-pikir, zaman sudah berubah sama sekali. Dulu, di era Mozart, Haydn, Beethoven, Liszt, Chopin… telepon seluler, BB, laptop, netbook… belum ada. Dus, orang bisa dengan mudah fokus ke musik. Beda dengan zaman sekarang: orang semakin sulit konsentrasi ke satu titik.

Atau, jangan-jangan musik klasik memang tidak cocok dengan manusia zaman sekarang yang serbasibuk dan multitasker. Hare gini liat musik klasik!!!

Oleh : Lambertus Hurek

***

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: