Beranda > Jazz > Ermy Kullit; Ratu Bossas Indonesia

Ermy Kullit; Ratu Bossas Indonesia

Ermy Kullit

Jazz itu ibarat kelapa: makin tua makin berminyak. Pemusik atau penyanyi jazz makin tua makin matang. Sebaliknya dengan pemusik atau penyanyi pop. Kalau usia sudah di atas 27 tahun, maka masa kejayaan itu, pelan tapi pasti, memudar. Apalagi, bagi penyanyi yang hanya mengandalkan tampang dan bokong doang.

Nah, Ermy Kullit termasuk salah satu dari sedikit penyanyi yang berada di jalan yang benar. Jalan jazz. Karena itu, di usia yang kian matang [Mbak Ermy lahir di Manado, 13 Mei 1955], kemampuannya pun kian hebat. Sampai hari ini dia ditanggap ke mana-mana karena punya segmen penggemar khusus. Bandingkan dengan segudang penyanyi pop seangkatan Ermy yang sudah tak jelas rimbanya lagi.

Saya sendiri termasuk pengagum berat Ermy Kullit. Vokalnya yang berat, rada basah, ambitus yang lebar, alto, membuatnya pas membawakan lagu-lagu jazz. Setidaknya pop-jazz atawa jazzy lah. Kalau anda jeli, maka anda menemukan kekhasan Ermy Kullit dalam membidik nada yang “tak lazim”. Istilahnya: sinkopasi. Ermy “memindahkan” ketukan secara refleks, sehingga nyanyiannya menjadi berayun alias swing. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh penyanyi yang benar-benar sudah menjiwai jazz.

Coba saja simak konser Ermy Kullit, dan anda bersenandung mengikuti lagunya. Hampir pasti anda akan masuk lebih dulu, di ketukan normal, sementara si Ermy Kullit menyusul belakangan. Sinkopasi dan swing memang dua dari beberapa elemen penting jazz, selain nada-nada biru [blue notes] serta improvisasi. Begitu kira teori jazz standar yang sempat saya baca sejak masih mahasiswa.

Jam terbang Ermy Kullit di belantika musik Indonesia memang tak perlu diragukan lagi. Mulai nyanyi di kampung halaman, Sulawesi Utara, Ermy hijrah ke Jakarta pada 1973. Saat Ermy masih 18 tahun. Sejak itu masuklah dia ke dapur rekaman dan merilis sekian puluh album. “Saya sendiri sampai lupa sudah berapa album. Banyak banget deh. Sekitar 25 sampai 30-an lah,” ujar Ermy kepada saya.

Yang menarik, Ermy Kullit mengaku selalu menyanyi apa adanya, dengan hati, tak pernah berpretensi bahwa sebuah lagu akan dibuat jazz atau blues. Dia tak mau terkotak dalam jenis musik tertentu. “Saya nyanyi saja sesuai karakter vokal saya,” ujar bintang jazz yang ramah ini.

Bahwa album-albumnya dikategorikan jazz, jazzy, Ermy tak ambil pusing. Yang penting, masyarakat suka dan dia sendiri puas. Sebab, kata dia, menyanyi itu tak semata-mata untuk mencari uang, tapi juga kepuasan batin.

Saya menemukan kaset lama Ermy Kullit di emperan Plaza Surabaya. Musiknya digarap Ireng Maulana, pemusik yang kemudian paling banyak menata musik untuk album-album Ermy Kulit. Ireng Maulana juga mengajak Ermy bergabung dalam Ireng Maulana All Stars — sampai sekarang. Kaset lama, terbitan 1982 itu, isinya lagu-lagu pop terkenal masa itu. Misalnya, beberapa lagu karya Rinto Harahap, Simfoni yang Indah, Papa Aku Ada Tanya [Mimpi], Nikmatnya Cinta, Kidung, Widuri, Benci tapi Rindu.

Mengusung irama dixie, Ermy membuat lagu-lagu terkenal itu menjadi lain sama sekali dengan aslinya. Sangat berbobot, tidak kacangan. Hal serupa dilakukan Ermy Kullit bersama Ireng Maulana All Stars beberapa waktu lalu. Lagu Tak Ingin Sendiri [Pance Pondaag], yang dulu dianggap cengeng, berasa lain saat dibawakan Ermy Kulit. Cara pembawaannya berbeda 180 derajat dengan Dian Piesesha, penyanyi asal.

“Mas Ireng Maulana menggarap Tak Ingin Sendiri dengan irama dixie. Saya juga nyanyi dengan gaya saya. Hasilnya, ya, seperti yang anda dengarkan itu,” tutur Ermy Kullit lalu tertawa kecil. Di album yang direkam Sangaji Productionini Ermy juga membawakan Mama Aku Ada Tanya serta Blueberry Hill’s.

Omong-omong, kenapa sangat sering kerja sama dengan Ireng Maulana? Bahkan, Ermy Kullit seperti identik dengan Ireng Maulana All Stars?

“Hehehe…. Banyak orang juga bilang begitu. Soalnya, saya sudah lama banget sih kerja bareng Ireng Maulana All Stars. Jadi, warna yang dirasakan masyarakat, ya, seperti itulah. Tapi memang saya paling cocok kerja sama dengan Ireng Maulana All Stars,” ujar mama dari Nurul Aini, hasil pernikahan keduanya dengan Muhammad Ramli Enci Abdul Rojak ini.

Bersama Ireng Maulana All Stars, Ermy Kullit berhasil memopulerkan bossas [bossanova], sejenis aliran jazz, di tanah air. Irama ini asalnya dari Amerika Latin dengan dedengkot Antonio Carlos Jobim. Orang Indonesia pada 1980-an dan 1990-an terbukti bisa menerima irama bossas versi Ermy Kullit. Hampir semua lagu di album Ermy disukai masyarakat.

Ermy melejit berkat lagu Kasih [Richard Kyoto] yang direkam pada 1986. Lewat album ini pula Ermy dinobatkan sebagai Penyanyi Jazz Terbaik versi tabloid Monitor dan BASF. Pada 1989 album Pasrah [Ryan Kyoto] kian memantapkan hegemoni Ermy Kullit di persada jazz anak negeri.

Ermy Maryam Nurjannah Kullit, nama asli Ermy, sebenarnya pernah bekerja sama dengan Indra Lesmana, pianis jazz kawakan, agar ada warna baru. Tapi, seperti saya saksikan dalam beberapa kali konser di Surabaya, para penggemar tampak lebih pas dengan Ermy yang bossas, bukan Ermy yang lain. Yah, tak bisa disalahkan karena Salena Jones-nya Indonesia ini sudah kadung pas dengan racikan Ireng Maulana.

“Boleh tahu lagu apa di album Mbak Ermy yang paling berkesan?” tanya saya.

“Pertama dan Terakhir,” jawabnya spontan.

Mbak Ermy kemudian menyanyikan penggalan lagu ini:

PERTAMA DAN TERAKHIR
By Robby Lea

Dari dulu aku telah katakan padamu
Kuterima apa adanya akan dirimu
Lupakanlah masa lalu
Janganlah kau ragu
Dengan hati tulus aku sambut isi hatimu

S’ribu bulan telah lalu
Kau pergi dariku
Tiada pesan tiada harapan
Kau beri padaku
Kalau memang engkau ingin permainkan diriku
Janganlah padaku jangan hidupku
Engkau hancurkan

Bisik hati kecilku saatnya nanti
pasti kan terjadi
Kisah kasih sayangku kau khianati
dan berpaling pada sahabat karibku:

ULANGAN

Sampai hatikah… mana satriamu
kini aku sadar bukan aku curahan kalbumu
Janganlah kau ulangi, aku yang pertama
Berjanjilah sayang, bahwa dia kasih yang terakhir

Posted by Lambertus Hurek

***

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: