Beranda > Pop > Leo Kristi; Masih garang di panggung.

Leo Kristi; Masih garang di panggung.

Leo Kristi

Di usia yang sudah mulai beranjak senja, jelang 62, Leo Kristi masih belum berubah. Di atas panggung, ‘pemusik jalanan’ asal Surabaya ini tetap saja garang melantunkan suara nelayan, petani, pemulung, gelandangan, dan kaum pinggiran. Leo Kristi pun tetap sibuk ‘mengamen’ di sana-sini meski nyaris tak pernah lagi masuk televisi. Ayah dua anak ini juga masih tetap sulit ‘ditangkap’ wartawan, tapi sering kali tiba-tiba saja muncul di depan khalayak. Tak heran, teman-teman lamanya di Surabaya pun terkejut ketika Leo Kristi hadir di Taman Surya, 31 Mei 2011 untuk menerima penghargaan dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Para penggemar Leo Kristi, biasa disebut LKers, yang rata-rata di atas 30, kontan saja meminta sang idola untuk foto bersama. Nah, di tengah kerumunan fansnya, yang rata-rata berusia 30 tahun ke atas, Leo Kristi bersedia meluangkan waktu untuk berbincang santai dengan saya. Sejumlah teman lama Leo, seperti Cak Kandar, Tedja Suminar, dan Herman Rivai pun ikut nimbrung bersama sang troubador.

ANDA MASIH TERLIHAT SEHAT, GARANG, DAN AWET MUDA. RESEPNYA APA?

Wah, saya tidak punya resep macam-macam. Cukup jalan kaki setiap hari. Itu olahraga favorit saya sejak dulu. Olahraga yang murah meriah dan bisa dilakukan oleh siapa saja.

BIASANYA JALAN KAKI DI MANA?

Yah, di mana saja. Kalau saya lagi di Bali, ya, jalan kaki di Bali, di Surabaya, Jakarta… saya selalu usahakan jalan kaki. Saya percaya kondisi kesehatan saya yang masih fit sampai sekarang, ya, berkat olahraga jalan kaki.

ANDA JALAN KAKI SAMBIL MEMPERHATIKAN SUASANA ALAM, MASYARAKAT, UNTUK DIJADIKAN INSIPIRASI DALAM BERMUSIK?

Bisa juga dari situ. Tapi, bagi saya, inspirasi itu bisa datang dari mana saja. Saya punya prinsip, hidup ini harus warm, fresh, and healthy. Kita perlu menjalani kehidupan ini apa adanya, gak perlu neko-neko. Jadi, kunci kesehatan itu juga sangat ditentukan oleh pikiran kita sendiri.

ANDA MASIH SERING BIKIN KONSER?

Musik itu, bagi saya, seperti kehidupan. Harus jalan terus. Saya baru saja kembali dari Jakarta, ada konser di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Jakarta Pusat. Konser gratis untuk teman-teman Lkers, silaturahmi, saling bertegur sapa. Acara-acara seperti ini membuat saya bahagia karena masih dikangeni sama teman-teman.

TAPI KAYAKNYA ANDA TIDAK PERNAH MUNCUL DI TELEVISI, SEHINGGA SOSOK ANDA KURANG DIKENAL GENERASI MUDA?

Seniman seperti saya memang sulit mendapat tempat di televisi-televisi nasional. Anda bisa lihat selera pengelola stasiun televisi-televisi kita sekarang ini. Yah, itu terserah mereka lah. Bagi saya, muncul di televisi atau tidak sama saja karena sejak dulu juga saya memang jarang tampil di televisi. Saya bisa ngamen, bermusik, di mana saja dan kapan saja.

ANDA MASIH MENGELUARKAN ALBUM BARU?

Masih, karena saya kan masih terus berkarya. Tahun lalu saya luncurkan album ke-12. Dan, yang menarik, album-album saya itu justru sangat diminati oleh orang luar negeri seperti Australia, Jepang, Amerika Serikat, Swiss, Yunani. Di Indonesia, CD-CD saya sudah ada penggemar khusus. Bahkan, komunitas Lkers itu selalu mengundang saya untuk tampil.

TREN MUSIK SEKARANG KAN SUDAH JAUH BERBEDA DENGAN ERA 1970-AN HINGGA 1990-AN. SISTEM PRODUKSI DAN REKAMAN MUSIK SUDAH LAIN. BAGAIMANA ANDA MENYESUAIKAN DIRI DENGAN PERUBAHAN INI?

Yah, saya mengalir saja. Perubahan itu memang harus terjadi, tidak hanya di dunia musik. Sebagai musisi, saya harus bisa mengikuti perubahan ini tanpa harus kehilangan karakter dan ciri khas. Bagi saya, perubahan itu bukan masalah, tapi menjadi tantangan tersendiri untuk semakin kreatif. Kalau mandeg, ya, kita akan habis.

SELAIN BERMUSIK, APA LAGI KESIBUKAN ANDA?

Kontemplasi, berdialog dengan alam sekitar, berhubungan dengan sesama manusia. Olahraga jalan kaki, jaga stamina.

APA MAKNA PENGHARGAAN DARI WALI KOTA SURABAYA UNTUK ANDA?

Paling tidak, saya masih diingat orang Surabaya, khususnya pemkot. Bagaimanapun juga saya ini arek Suroboyo, punya akar dari sini. Ada banyak hal yang konsisten di Surabaya dan tak akan habis-habis kita gali.

RIANG DALAM KEPEDIHAN

Leo Kristi

SELAIN Gombloh dan Franky Sahilatua, yang sudah almarhum, Surabaya beruntung punya Leo Kristi. Seniman musik dengan karakter kerakyatan dan patriotisme sangat kental. Boleh dikata, Leo merupakan salah satu dari sedikit pemusik Indonesia yang konsisten mengangkat lirik, melodi, irama, harmoni, dan karakter musiknya dalam nuansa kerakyatan yang riang.

Karena itu, tak berlebihan kalau Leo menyebut grupnya sebagai Konser Rakyat Leo Kristi. Nama Leo Kristi sendiri dipetik dari tiga kata: Leo, Keris, dan Sakti. Dan nama itu menjadi nama gitarnya yang kemudian disingkat menjadi Leo Kristi. Adapun nama asli yang diberikan orang tuanya, Imam Subiantoro dan Roekmini Idajati, adalah Leo Imam Soekarno.

Sang ayah bekerja sebagai pengawas pajak di kantor inspeksi keuangan. Walaupun kehidupan ekonomi orang tuanya serba cukup, sifat kerakyatan sudah kelihatan dalam pribadinya. Leo kecil suka mencuri waktu tidur siang dan pergi main bersama teman-temannya, jajan di pinggir jalan, bergaul dengan anak kampung, bermain lumpur, menyanyi di belakang gubuk para gelandangan.

Sejak kecil Leo sudah menunjukan bakat di bidang musik. Melihat bakat tersebut, sang ayah memberi hadiah sebuah gitar. Semasa SMA, dia sudah memimpin sebuah grup band. Sempat kuliah di ITS  Surabaya jurusan arsitektur sampai tingkat kedua, Leo memilih keluar karena jiwa seninya jauh lebih menonjol ketimbang menekuni rumus-rumus arsitektur. Toh, dia dengan mantap memilih menjadi arsitektur musik. Musik yang unik, musik khas Leo Kristi.

Dalam mencipta lagu, Leo selalu mengikuti suara hati dan rasa cintanya kepada tanah air. Lagu-lagunya juga selalu dikasih bumbu dengan mengangkat kejadian sehari-hari, bagaimana perjuangan rakyat menghadapi kehidupan. Dia kerap mengajak bicara anak-anak, orang tua, untuk memahami persoalan sehari-hari.

Leo Kristi di pangung

Selain itu, Leo juga sangat jeli ketika mengamati sosok seseorang. Dia memaknai raut wajah, sorot mata, bahkan guratan garis-garis di wajah seseorang. Itu semua kemudian diangkat menjadi syair dan musik. “Kiblat saya memang rakyat. Manusia,” ujar pria yang mengaku terpengaruh pemusik kawakan macam Bob Dylan, Queen, Beatles, Mellani, dan Piere Morlin ini.

Yang menarik, meski selalu memotret kehidupan rakyat kebanyakan yang sederhana, menderita, dan sering kekurangan, Leo tidak sampai jatuh dalam kecengengan. Maka, tak ada rintihan atau kecengengan dalam komposisinya. Dia selalu membawakannya dalam suasana yang riang gembira.

BIODATA SINGKAT

Nama lahir : Leo Imam Sukarno
Nama populer : Leo Kristi
Lahir : Surabaya, 8 Agustus 1949
Agama : Islam
Istri : Dayu Cemani Pidada
Anak : Panji dan Rayu
Pekerjaan : Seniman musik
Grup/Komunitas : Konser Rakyat Leo Kristi

PENDIDIKAN
SD Kristen, Surabaya (1961)
SMP IV, Surabaya (1964)
SMA I, Surabaya (1967)
Fakultas Teknik ITS Surabaya (1971)
Kursus Musik Dasar Tino Kerdijk
Kursus gitar pada Poei Sing Gwan dan Oei Siok Gwan

KARIER
1. Penjual buku Groliers American Books
2. Karyawan pabrik cat Texmura
3. Penyanyi di restoran China Oriental dan Chez Rose (1974-1975)
4. Menyanyi di LIA dan Goethe Institut

Diskografi

1. Nyanyian Fajar (1975)
2. Nyanyian Malam (1976)
3. Nyanyian Tanah Merdeka (1977)
4. Nyanyian Cinta (1978)
5. Lintasan Biru Emas dan Potret Kecil Citra Negeriku (1984)
6. Biru Emas Bintang Tani (1985)

Penghargaan
Wali Kota Surabaya, 2011

DIMUAT RADAR SURABAYA EDISI MINGGU, 26 JUNI 2011

***

  1. Agustus 2, 2011 pukul 1:19 am

    Penyanyi2 seperti Leo K, Gombloh, Franky, Iwan Fals memang karismatik. Tapi sayang generasi muda kurang mengenal mereka.
    Leo Kristi yang menyuarakan jeritan rakyat tertindas dan alam yang rusak sepertinya menjadi penyanyi eksklusif, hanya dikenal dan lagu2nya disukai kalangan tertentu, padahal pesan dalam lagu2nya sangat universal.
    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

    • Agustus 6, 2016 pukul 10:23 am

      Bro Mochammad, maaf apakah punya alamat nya , Leo Kristi di Surabaya , jika punya boleh share ke nmr 08125807000 , tks.

      • Agustus 29, 2016 pukul 12:10 am

        wah, saya ndak punya, Bro Eddy Te Es

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: