Beranda > Jazz > Maylaffayza; Semangat dari sebuah kebebasan dalam berkarya.

Maylaffayza; Semangat dari sebuah kebebasan dalam berkarya.

Maylaffayza Wiguna

Salah satu nama pemain violin muda tanah air yang saat ini menarik perhatian adalah Maylaffayza. Cantik dan seksi. Itu kesan secara fisik yang ditampilkan Fayza, begitu Maylaffayza Permata Fitri Wiguna akrab disapa. Namun dibalik itu, ia adalah pemain viola yang perfeksionis. Stephane Grapelli, Regina Carter, Miri Ben Ari adalah sederet maestro inspirasinya. Dibawah bimbingan Idris Sardi, legenda violis tanah air, Fayza mengembangkan pilihan alat musik spesialisasinya itu.

Putri pasangan Taufiq Wijaya dan Tuti Rohyati ini mulai memainkan violin sejak usia sembilan tahun. Sang ibu memasukkan Fayza kursus violin di Bina Musika milik Depdikbud. Setahun kemudian ia mulai belajar kepada Idris Sardi. Proses belajar kepada Idris Sardi diakui Fayza terus berlanjut sampai sekarang.

Dalam perjalan karir musikalnya, violis kelahiran 10 Juli 1976 ini tidak hanya main violin tetapi juga menyanyi. Ini Fayza tunjukkan di album perdana yang dirilis tahun 2007 lalu. Album dengan judul namanya sendiri itu diproduksi secara independen. Fayza berperan sebagai eksektif produser (bersama Yahya Chatab), produser dan music director, penulis vocal song dan lirik. Ia dibantu Bobby Surjadi dalam mengarasir musik. Di album itu, Fayza merekam hampir semua violin tracks di apartemennya. Lebih total lagi, sarjana lulusan design produksi Universitas Trisakti Jakarta ini menggarap sendiri art work concept album itu.

Fayza ingin memperkenalkan biola bukan instrumen yang kaku dan dapat dimainkan dengan rileks. Pilihannya adalah pada genre Crossover pop. Ia membuat kontain album Maylaffayza dalam dua bagian. Lima pertama adalah violin tracks yang berisi nomor-nomor instrumental. Lima sisanya vokal tracks yang menampung obsesinya bermain violin sambil bernyanyi (dengan terispirasi oleh Michael Jackson, Beyonce, Britney Spears, Alicia Keys, sampai Justine Timberlike). Untuk komposisi-komposisi violin, ia percayakan olahannya kepada sang mentor, Idris Sardi.

Dalam liner note, Fayza menyebutkan albumnya adalah sebuah liberatti. Semangat dari sebuah kebebasan dalam berkarya. Aplikasinya adalah ia membebaskan pemikirannya saat menulis lagu dengan tidak terikat dalam sekat-sekat kultur, genre, kepercayaan, dan norma. Tentunya ini bukan kebebasan semena-mena, tapi kebebasan yang bertanggung jawab. Kebebasan untuk keluar dari standard, untuk menciptakan inovasi. “…My music, has grown stronger by accepting and combining all of the differences…” tulisnya.

***

Kategori:Jazz Tag:,
  1. Hardi
    Juni 6, 2011 pukul 9:29 am

    Kepada Yth.
    Maylaffayza

    Selamat pagi, saya berkeinginan mengikuti les biola di tempat ibu dan saya menginginkan informasi lebih lanjut mengenai lokasi, nomor telepon tempat les yang berada mendekati tempat tinggal saya yang berada di Harapan Indah Bekasi Utara.

    Tolong informasinya segera, atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

    Regarts,
    Hardi

  1. September 2, 2012 pukul 3:16 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: