Beranda > Jazz > Jazz Multikultur

Jazz Multikultur

Jazz Multikultur

Jazz multikultur. Mungkin ini kata yang paling tepat untuk mengganti istilah mereka, Rhythms Meeting, ketika menyaksikan pertunjukan musik jazz yang diadakan Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK) dan Lembaga Indonesia Prancis (LIP) Jokja, Kamis malam yang lalu, pada Program Jagongan Wagen di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Bantul – Jokjakarta.

Betapa tidak, lagu-lagu jazz yang dibawakan—selama 1,5 jam dan menghipnotis sekitar 1000 penonton—kental dengan nuansa Jawa, China, Timur Tengah, Eropa, Amerika, Jepang, maupun Bali. Bahkan, satu lagu yang dibawakan secara kolaborasi, diawali dengan irama yang bernuansa Jawa, lantas disusul dengan nuansa Bali, padang pasir, China, dan sebagainya. Demikian pula ketika membawakan lagu Jawa “Ilir-ilir”.

Sungguh luar biasa penampilan mereka sehingga tak ada yang tak mengundang tepuk tangan meriah penonton. Mereka tampaknya tak hanya sekadar mencomot sana-sini musik-musik tradisional yang mereka temui dalam perjalanannya, namun diolah dan diramu sehingga menghasilkan sebuah irama yang rancak, segar, dinamis, dan penuh cita rasa.
Begitulah permainan jazz yang ditunjukkan oleh François Lindemann dari Swiss (piano), Jacques Schwarz-bart dari Prancis (saksofon), Claude Tchamitchian dari Prancis (kontra bas), Ling Ling Yu dari China (sitar, mandolin), Sangoma Everett dari Prancis (drum), Aziz Boulaaroug dari Maroko (perkusi), Abdelaziz El Achhab dari Maroko (biola), Djaduk Ferianto dari Indonesia (perkusi, vokal), dan Purwanto dari Indonesia (gamelan).

Dalam pengakuan François Lindemann, Rhythms Meeting merupakan gagasannya ketika menjelajahi empat negara dalam waktu tiga bulan, yaitu Maroko, Indonesia, Thailand, dan India. Selama perjalanannya, ia bekerja sama dengan musisi-musisi setempat dan mengajak mereka untuk terlibat dalam eksplorasi musikal yang mengangkat kekuatan dan kebersamaan kultural.

“Proyek musikal tersebut adalah untuk berbagi gagasan atau fantasi saya tentang musik dari semua negeri itu,” katanya.
Menurut François Lindemann, gagasannya tersebut berangkat dari empat atau lima pemusik dengan dasar Barat meski tidak harus orang Barat. Seorang penabuh drum Amerika keturunan Afrika, seorang pemain sitar (mandolin China), seorang musisi kontra bas dari Paris keturunan Armenia, seorang peniup saksofon dari Guadelup yang tinggal di New York, dan dirinya sendiri yang seorang pianis dan penggubah dari Lausanne, Swiss
Dalam perjalanannya tersebut, kelompok ini mengadakan pertemuan dengan para pemusik di Maroko, Indonesia, Thailand, dan India. “Kami lantas bekerja dengan berdiam di tempat itu bersama dua pemusik yang saya pilih sebagai semacam pasangan. Yang satu sangat etnik dan benar-benar mengetahui musik tradisional negerinya dan satu lagi pernah bekerja dengan pemusik-pemusik Barat dari jenis rock, jazz, blues, atau klasik,” ujarnya.

Benturan dan “Sirup”
Pada penjelasannya, François Lindemann menekankan bahwa untuk karya kreatif tersebut, dirinya bersama kawan-kawan sengaja mengambil musik-musik etnik di seluruh dunia, kemudian memformatnya dengan sedikit irama beat, disko, sedikit perasan synthesizer untuk menenggelamkan semua itu.
“Saya tak tertarik untuk menjualnya. Saya benci cap. Saya tidak akan datang dengan satu kelompok jazz yang akan menjual wewangian eksotis. Saya juga tidak ingin memainkan musik tradisional Maroko, Jawa, Thailand, atau India. Itu benar-benar semacam konfrontasi dan interpenetrasi terhadap berbagai jenis musik beda,” tegasnya.
Ditambahkan, dalam memformat selalu ada rumpun irama di dunia, ada rumpun alat musik, keluarga warna, dan jenis nada yang tidak bisa dikawinkan, serta sudah barang tentu akan ada juga berbagai benturan. Benturan-benturan itu tidak selalu akan bisa dihilangkan.
“Kami membiarkannya dalam pertunjukan. Memang, pada saat-saat tertentu kurang elok dan hanya bagus bagi satu pihak. Tapi apakah hidup itu selalu bisa dikonsumsi layaknya sirup?” ungkap François Lindemann.

Mungkin pandangan Anda berbeda dengan François Lindemann dan itu sah-sah saja. Tapi di sini, François Lindemann telah membuktikan bahwa perbedaan bisa “hidup” berdampingan secara harmonis tanpa meniadakan yang lain.

***

Kategori:Jazz Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: