Beranda > Jazz > Emerald, Warna Fusion Ala Casiopea dan Uzeb

Emerald, Warna Fusion Ala Casiopea dan Uzeb

Cover Album "Karapan Sapi"

Emerald Band adalah band fusion yang dibentuk dua bersaudara Iwang Noorsaid (keyboard) dan Inang Noorsaid (drums) bersama Roediyanto Wasito (bass) serta Morgan Sigarlaki (gitar elektrik). Terbentuk tahun 1986 untuk ikut dalam lomba band yang setiap tahun diadakan oleh sebuah perusahaan alat music dari Jepang dengan nama “Light Music Contest”. Emerald berhasil menjadi juara pertama. Dan ketika ajang lomba ini berganti nama menjadi “Band Explosion”, Emerald yang berubah formasi dengan masuk drummer Cendi Luntungan kembali menjadi juara 1 di tahun 1988.

Bahkan kuartet yang banyak terpengaruh dengan warna fusion ala Casiopea dan Uzeb ini mewakili Indonesia ke Band Explosion International yang berlangsung di Budokan Hall Tokyo Jepang. Saat itu Emerald membawakan komposisi yang disusupi elemen etnik Madura dengan judul “Karapan Sapi”.

Memadukan fusion dengan elemen etnik ini mungkin yang menjadi daya tarik musik Emerald ketika berlaga di Jepang.

Pada saat Emerald akan menggarap album kedua, band yang kemudian berubah lagi formasinya dengan masuknya Ricky Johannes (vokal) serta Yayang (drums) ini terlihat banyak menawarkan tema fusion yang berbalur aroma etnikal. Selain pada komposisi “Karapan Sapi”, nuansa etnik Indonesia terasa pada lagu bertajuk “Kecapi” maupun “Ronggeng”. Unsur etnik memang tak diberi porsi yang dominan dalam struktur komposisi yang banyak ditulis oleh Iwang Noorsaid. Aroma rhythm section tetap bernuansa jazz rock yang memperlihatkan riuhnya bunyi keyboard, gitar elektrik dan bass beraksentuasi funk. Namun dalam beberapa bagian notasi terkesan ingin mengedepankan sebuah dialek yang etnikal.

Komposisi seperti “The Job” ataupun “Seventh Sky” terasa kuat pengaruh band band fusion Amerika maupun Jepang yang banyak merilis album di era 80-an. Ketrampilan Iwan Noorsaid sebagai pemain keyboards sangat terwakili pada komposisi bertajuk “Altimeter”.

Sayangnya pola permainan gitar Morgan Sigarlaki terasa kurang berkembang. Peran Morgan seperti tertutup oleh kemegahan bunyi-bunyian keyboard Iwang Noorsaid maupun aksentuasi bass yang dimainkan Roediyanto.

***

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: